Oleh: hendrainfo | Juni 11, 2009

Bantahan Terhadap Bukakhiratwebu “Ternyata Akhirat Tidak Kekal” Karangan Agus Mustofa

akhiratwebDi mana Surga dan Neraka?

Hal 189 buku Ternyata Akhirat Tidak Kekal” (TATK) dikatakan: :”Bagaimana menjelaskan bahwa langit dan Bumi itu ada tujuh? Hal ini memang sangat abstrak tetapi sebenarnya bisa dijelaskan dengan teori dimensi.”

Penulis buku juga mengatakan kurang lebih bahwa langit pertama yang berdimensi tiga ini tidak bertepi tapi terbatas oleh dimensi ke empat. Keempat dimensi itulah yang merupakan titik tolak langit ke dua. Begitu pula seterusnya untuk langit-langit berikutnya.

Di sini dia mendasarkan pendapatnya itu hanya pada satu dalil, yaitu teori dimensi. Saya tidak menemukan satupun nash (yang benar-benar bisa dipakai sebagai dalil) yang menyertai pendapatnya itu. Bagaimana mungkin suatu kebenaran dalam hal yang ghoib hanya ditarik kesimpulannya (di-inferensi) dari TEORI.

Hal ini sangat fatal, karena dari pendapat inilah disusun pendapat berikutnya bahwa surga neraka terletak di bumi ini pula namun pada dimensi ke sembilan.

Tidak ada satupun nash pun yang secara qath’i dan muhkam menyatakan bahwa surga neraka berada di bumi ini pula namun pada dimensi ke sembilan. Semua yang Sdr. Agus ungkapkan hanya berdasarkan pada teori saja.

Kalaupun dia mengungkapkan dalil Al A’raf ayat 25 “Katakanlah: di Bumi itulah kalian hidup, dan di Bumi itu kalian mati, dan dari Bumi itu pula kalian akan dibangkitkan” itu sama sekali tidak menunjukkan bahwa Akhirat, Surga dan Neraka berada di Bumi. Ayat itu hanya menunjukkan urut-urutan hidup di atas bumi, mati di atas bumi (dan dikubur di dalam bumi) kemudian dibangkitkan DARI dalam bumi. Masalah setelah dibangkitkan DARI bumi itu manusia akan ditaruh di akhirat mana, Allah tidak mengatakannya.

Allah tidak mengatakan fihaa tukhrajuun (di bumi kalian dibangkitkan) tapi minhaa tukhrajun (dari bumi kalian dibangkitkan). Di sini kita dapat mengetahui kesalahan Sdr. Agus dalam mengambil kesimpulan. Seperti misalnya pada halaman 191 buku TATK di mana dia mengatakan berdasarkan Al A’raf: 25 bahwa Di Bumi itulah kita hidup, di Bumi itu kita mati, dan DI Bumi itu pula kita dibangkitkan.

Kemudian Sdr. Agus membuat kesalahan lain ketika menjadikan ayat-ayat yang menggambarkan surga sebagai dalil bahwa surga berada di Bumi. Ini terlihat pada buku TATK halaman 193 sampai 196. Kalau diperhatikan, semua ayat-ayat yang disebutkan hanya menggambarkan Surga sebagai suatu tempat yang menyerupai kondisi ideal dari Bumi. Tapi tidak ada satu pun ayat yang menyebutkan bahwa suatu tempat yang menyerupai Bumi itu adalah Bumi itu sendiri dalam dimensi yang lain. Kemiripan tempat tidak mengharuskan kesamaan tempat. Kalau Allah bisa menciptakan Bumi yang tidak ideal, tentunya Allah juga bisa dengan mudah menciptakan tempat lain di luar Bumi yang mirip Bumi dengan versi yang lebih sempurna, lengkap dengan sungainya, gunungnya, siang-malamnya dan lain-lainnya.

Lalu bagaimana solusinya?

Imani saja semua nash tanpa ta’til, ta’wil, takyif, dan seterusnya. Itulah yang Insya Allah lebih selamat. Kita tidak berhak untuk menta’wilnya sementara Rasulullah sebagai manusia yang paling mengetahui dalam masalah ini tidak menta’wilnya dan Para Shahabat Rasul sebagai generasi terbaik dalam pemahaman agama tidak menta’wilnya.
Apakah Sdr.Agus menganggap dirinya lebih tahu dari Rasulullah dalam hal ini sementara Rasulullah adalah orang yang paling ‘alim dalam hal yang ghoib.

Apakah Sdr. Agus menganggap bahwa pada zaman Rasul, Rasulullah sebenarnya sudah tahu (bahwa Surga dan Neraka di Bumi) namun tidak mengungkapkannya pada para Shahabat? Kalau seperti itu anggapan dia, sungguh dia telah menuduh Rasulullah mengkhianati Risalah.

Akhirat tidak kekal.

Agus memberikan dalil pada halaman 233 tentang ketidakkekalan akhirat dengan QS Huud ayat 106-108.

Memang bacaan kita akan Al Qur’an harus secara komprehensif. Namun permasalahannya tidak sesimpel ayat Al Qur’an akan dikhususkan dengan ayat Al Qur’an lain. Kita juga harus mampu memahami bagaimana tafsir hadits, tafsir para sahabat dan tafsir para ulama pembela Assunnah atas ayat Al Qur’an tersebut.

Memang – setahu saya – Ibnu Taimiyyah dan Ibnul Qoyyim rahimahumallah berpendapat bahwa Neraka tidak kekal. Namun pendapat mereka itu hanya terbatas pada Neraka saja, bukan pada konsep Akhirat secara keseluruhan. Jadi dapat disimpulkan bahwa pendapat bahwa surga dan neraka – dua-duanya – tidak kekal, adalah pendapat baru yang belum dikenal sebelumnya.

Bagaimana mungkin kita sebagai pengikut Rasulullah akan mengatakan bahwa akhirat tidak kekal sementara Rasulullah sendiri telah mengatakan dalam salah satu hadits riwayat Ibnu Majah dengan sanad yang bagus sebagaimana dikatakan oleh Al Mundziri dan telah dikatakan shahih oleh Ibnu Hibban (2614) dan Ahmad (2/261) sebagai berikut :

“Kelak maut akan didatangkan pada hari kiamat, lalu ia berhenti di atas jembatan (shirat). Maka dipanggillah penghuni surga, ‘Hai penghuni surga!’ Mereka pun nampak ketakutan untuk keluar dari tempat mereka sekarang. Lalu dipanggillah penghuni neraka, ‘Hai penghuni neraka!’ Mereka pun muncul kegirangan dan riang gembira keluar dari tempat mereka sekarang. Lantas ditanyakanlah kepada mereka, ‘Tahukah kalian siapa ini?’ Mereka menjawab, ‘Ya, kematian!’ Selanjutnya sang kematian pun diikat dan disembelih di atas jembatan (shirath). Kemudian dikatakanlah kepada masing-masing kelompok, ‘Kekallah di dalam apa-apa yang kalian temukan, tidak akan ada kematian lagi di dalamnya selama-lamanya!’” [1]

Hadits di atas didukung oleh hadits riwayat Bukhari dan Muslim dalam kitab shahihnya berikut ini :

“Allah memasukkan penghuni surga ke surga dan penghuni neraka ke neraka. Kemudian bangkitlah seorang muadzin (orang yang berseru) di antara mereka sembari berseru, ‘Hai penduduk surga, tidak ada kematian (di surga)! Hai penduduk neraka, tidak ada kematian (di neraka), masing-masing kekal di dalamnya!”

Kalau kita mengacu pada tafsir Ibnu Katsir (murid dari Ibnu Taimiyyah), dimana tafsirnya termasuk tafsir paling standar dan biasa dipakai oleh beginner tholabul ‘ilm sampai advanced ulama’, kita bisa mendapat penjelasan tentang bagaimana menafsirkan dan apa penafsiran “maadaamatissamawatu wal ardhu” yang benar.

Di dalamnya misalnya kita dapati penafsiran Imam Abu Ja’far Ibn Jarir bahwa ungkapan “maadaamatissamawatu wal ardhu” adalah sebagaimana kebiasaan orang Arab untuk menegasan akan kekekalan Akhirat. Dalam arti bahwa Allah menurunkan pertama kali Al Qur’an pada orang Arab dalam bahasa yang dipahami dan biasa dipakai orang Arab. Dan oleh karena itu kita harus memahami sebagaimana orang Arab waktu itu memahami pertama kali.

Di dalam tafsir ibn Katsir juga dikemukakan berbagai penafsiran lain selain di atas. Namun tidak ada satupun di antara penafsiran mu’tabar itu yang mengatakan bahwa “maadaamatissamawatu wal ardhu” merupakan hujjah ketidakkekalan Akhirat.

Oleh karena itu kita dapat mengambil kesimpulan bahwa Sdr Agus telah membuat-buat ide baru yang tidak dikenal di masa Rasulullah, para sahabat, tabiin, dan tabiut tabiin. Padahal di masa merekalah pemahaman agama yang paling murni dan benar.

Apakah Sdr.Agus menganggap dirinya lebih tahu dari Rasulullah dalam hal ini sementara Rasulullah adalah orang yang paling ‘alim dalam hal yang ghoib.

Apakah Sdr. Agus menganggap bahwa pada zaman Rasul, Rasulullah sebenarnya sudah tahu (bahwa akhirat itu tidak kekal) namun tidak mengungkapkannya pada para Shahabat? Kalau seperti itu anggapan dia, sungguh dia telah menuduh Rasulullah mengkhianati Risalah.

Secara logika juga, “maadaamatissamaawaatu wal ardhu” itu sebenarnya lebih bergantung pada asumsi apa yang SUDAH ada di dalam pikiran kita.
Seandainya seseorang SUDAH mengasumsikan bahwa Akhirat itu tidak kekal (seperti Sdr. Agus) maka dia pasti mengasumsikan bahwa samaawaat dan ardh yang dimaksud di ayat itu adalah samaawaat dan ardh yang itu-itu saja, yaitu samaawaat dan ardh dunia yang kita rasakan sekarang namun dalam dimensi yang lain. Dan karena samaawaat dan ardh dunia maka tidak kekal. Ini membuat seolah-olah kata “maadaamatissamaawaatu wal ardhu” itu sebagai kata yang memperkuat ketidakkekalan Akhirat.

Namun seandainya kita SUDAH mengasumsikan (sesuai nash-nash yang muhkam) bahwa Akhirat itu kekal abadi selama-lamanya (sebagai ketetapan dari Allah yang Maha Kekal yang menentukan kekekalan), maka kata “maadaamatissamaawaatu wal ardhu” itu seolah-olah hanya menegaskan tentang samaawaat dan ardh yang ada di Akhirat nanti. Dan karena Akhirat sudah diimani bersifat kekal maka samaawaat dan ardh yang ada di Akhirat nanti pun pasti ikut kekal. Maka jadilah kata “maadaamatissamaawaatu wal ardhu” itu sebagai penegasan kekekalan Akhirat.

Syaikh Asshun’ani rahimahullah pernah menjelaskan mengenai “maadaamatissamaawaatu wal ardhu” dalam manuskripnya yang telah ditahqiq oleh Syaikh Al Albani rahimahullah dan diterjemahkan ke bahasa Indonesia dengan judul “Perbedaan Ulama Salaf dan Khalaf Tentang Keabadian Neraka” ketika membahas mengenai kefanaan atau keabadian neraka (sekali lagi saya ingatkan bahwa perdebatan yang dikenal di kalangan ulama adalah mengenai ‘apakah neraka itu abadi atau fana’, bukan mengenai konsep keabadian akhirat secara umum) sebagai berikut : Menurut saya, pendapat ini lebih didasarkan pada asumsi bahwa yang dimaksudkan mereka dengan langit dan bumi dalam ayat tersebut adalah langit dan bumi dunia, sehingga ayat tersebut berarti “selama kadar kekekalan dunia”. Namun jika mereka asumsikan hal itu sebagai langit dan bumi akhirat, maka ujaran “kecuali jika Allah menghendaki pertambahan masa keduanya” tidak akan terlontar, sebab keduanya abadi dan tidak mungkin dibayangkan ada pertambahan bagi sesuatu yang abadi. Jadi, yang tepat adalah mengasumsikan langit dan bumi dalam ayat tersebut sebagai langit-langit dan bumi akhirat, sebab ayat-ayat pengekalan bagi kedua golongan (yang celaka dan bahagia) memutuskan keharusan kekekalan bumi dan langitnya, dimana mau tidak mau harus ada sesuatu yang berada di bawah dan di atas mereka, dan itulah yang dimaksud dengan langit dan bumi akhirat. Firman Allah “selama ada langit dan bumi” pun juga mengunggulkan hal itu, sebab bumi dan langit-langit dunia tentu telah binasa (seiring dengan binasanya dunia oleh kiamat). Jika yang dimaksudkan demikian (bumi dan langit dunia), maka akan dikatakan “maakaanatissamaawaatu wal ardhu” bukan “maadaamatissamaawaatu wal ardhu”. [1]

Bebarapa sebab kesalahan pemikiran:

Sdr. Agus masih kurang memahami konsep kekekalan Allah dan akhirat. Dia masih membenturkan vis a vis konsep kekekalan Akhirat dengan dengan kekekalan Allah sebagai dua konsep yang bertentangan. Padahal sebenarnya konsep kekekalan tidak bisa dilihat selinear itu.

Sebenarnya, sifat kekalnya Akhirat bukanlah sifat yang “wajib bi dzatihi” namun bergantung pada “masyiatullah” (CMIIW). Artinya Akhirat kekal bukan karena Akhirat itu sendiri yang kekal, namun karena Allah menghendaki Akhirat itu kekal. Artinya kekekalan Akhirat adalah bergantung pada Allah. Sehingga sangatlah tidak pas kalau Sdr. Agus menabrakkan kekekalan Akhirat dengan kekekalan Allah sehingga seolah-olah jika Allah Kekal maka Akhirat harus tidak kekal, dan jika ada orang yang menganggap Akhirat kekal berarti orang itu menyekutukan sifat yang merupakan kekhususan Allah.

Secara mudah bisa dikatakan bahwa kalau memang Allah yang Maha Kekal berkehendak agar Akhirat kekal maka tidak ada yang bisa menentangnya!

Pada kesempatan bedah buku di Masjid BI, Sdr. Agus mengatakan bahwa dasar dia menulis buku ini adalah karena keprihatinannya akan fenomena (menurutnya) orang yang beribadah karena mengharap Surga dan takut Neraka saja, bukan karena mengharap cinta Allah dan takut pada murka Allah.

Sesungguhnya saya tidak menjumpai konsep pemisahan antara cinta Allah dan Surga serta antara murka Allah dan Neraka kecuali dalam agama Sufi.

Rasulullah, Para Shahabat, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik tidaklah pernah dipusingkan dengan pembedaan tersebut seperti orang-orang Sufi memusingkannya. Maka di antara mereka para Shahabat, dan orang-orang shalih ada yang menangis dan pingsan ketika mendengar mengenai Surga dan Neraka. Mereka begitu berharap akan Surga dan takut pada Neraka. Tapi apakah berarti mereka tidak cinta dan takut pada Allah?

Rasulullah juga memerintahkan kita untuk berlindung dari siksa kubur, siksa neraka, mengharap akan Surga, mengharap akan Ridha Allah. Semua Rasulullah sebutkan tanpa membeda-bedakan. Kalau memang kita tidak berhak untuk takut pada neraka, berarti Rasulullah telah melakukan hal yang sia-sia ketika beliau memerintahkan kita untuk mengulang-ulang doa setelah shalawat pada saat duduk tawarruk di akhir shalat. Sungguh kezaliman besar pada sunnah Rasul.

Intinya adalah kita tidak usah dipusingkan dengan pembedaan antara Surga Neraka, Ridha dan Murka Allah. Surga adalah perwujudan masyiah (kehendak) Allah atas Ridha-Nya. Neraka adalah perwujudan masyiah Allah atas murkanya. Kalau seseorang ingin masuk Surga dan menghindar dari Neraka, pada hakikatnya dia sedang berlari meninggalkan Murka Allah menuju Ridha Allah.

Lagi pula sepanjang pengetahuan saya tidak pernah ada pembuktian ilmiah bahwa fenomena orang yang beribadah semata hanya karena mengharap surga dan menghindar dari neraka saja. Sepanjang pengetahuan saya tentang ulama-ulama sholih dan atsar-atsar (peninggalan) mereka, tidak ada di antara mereka yang membeda-bedakan secara khusus, ini untuk Allah, ini untuk surga, ini untuk neraka, kecuali sedikit sekali di antara sufiyyun yang tidak bisa digolongkan sebagai ulama dan sholihin. Para ulama ahlussunnah itu dalam beribadah, mereka beribadah saja, mereka mengharap ridha Allah, mereka meminta surga dan berusaha menghindar dari neraka. Sebegitu simpel, lalu mengapa harus dipersulit dengan putaran lidah penganut filsafat sufi?

Saran saya untuk kita semua Pelajarilah Islam dari Al Qur’an dan Assunnah seperti apa yang dipahami oleh generasi terbaik Islam, para Shahabat, Tabiin dan tabiut Tabiin. Berinteraksilah dengan pemahaman-pemahaman mereka melebihi intensitas kita dalam mempelajari logika dan Astronomi. Jauhilah pemahaman-pemahaman baru dalam hal Agama. Sebegitu mudah, lalu mengapa kita harus mencampur adukkan yang simpel dengan kerumitan filsafat sufi?

Logika dan ilmu pengetahuan kita bukanlah tempat yang pas untuk mengeksplorasi hal-hal yang ghoib. Dalam hal ini kita harus secara murni dan konsekuen memakai nash. Gunakan logika dan ilmu pengetahuan hanya sampai tingkat tadabbur akan penciptaan Alam ini dan keyakinan bahwa hanya Allah lah yang mampu menciptakan semua ini (seperti yang yang telah dituntunkan oleh Nash-nash tentang tadabbur), yaitu tentang begitu besarnya matahari, begitu luasnya tata surya, bima sakti dan lain-lain. Dan dari semua itu timbulkan rasa takut pada Allah, pada murka Allah dan rasa takut dijatuhkan ke Neraka karena murka Allah.

Teori sains bersifat relatif. Sesuatu yang saat ini seolah seperti kebenaran yang nyata, bisa jadi kelak akan dibantah dengan bukti yang lebih kuat. Pengetahuan sains manusia tentang alam semesta ini, sebagaimana yang dikemukakan oleh para astronom, baru mencapai satu persen dari total alam semesta ini. Masih ada 99 persen alam semesta ini beserta fenomenanya yang belum terjamah ilmu pengetahuan manusia. Lalu apakah kita hendak menggunakan yang satu persen itu dan yang relatif itu, untuk mengeksplor dan bahkan menjustifikasi sesuatu yang secara absolut diungkapkan dalam nash-nash agama?Bagaimana mungkin yang relatif menentukan yang absolut. Bagaimana mungkin yang nisbi menentukan yang mutlak.

Yang perlu kita lakukan adalah tetapkan saja Surga dan Neraka seperti apa yang Allah katakan, yang Rasulullah katakan, dan yang para Shahabat pahami. Tetapkan itu dalam keimanan kita sebagai sesuatu yang MUTLAK pasti akan kita alami, persis seperti apa yang Allah katakan, Rasulullah katakan dan para Shahabat pahami. Kemudian ketika kita belajar sains, tentang segala macam teorinya. Gunakan semua itu untuk merenungi kebesaran Allah dan menimbulkan rasa takut pada-Nya. Seperti itulah sikap yang Insya Allah terbaik bagi kita.

Wallahu a’lam

**************

Sumber : http://faidzin.wordpress.com/2007/09/04/bantahan-terhadap-buku-%E2%80%9Cternyata-akhirat-tidak-kekal%E2%80%9D-karangan-agus-mustofa/#comment-133


Responses

  1. nice…
    sayangnya blognya mas fai dah ga pernah update lagi…
    kenapa ya…?

    • thanks ya dah mampir…sipppp

  2. suka fotografi ya mas? coba cek blognya pak agus sarwodi..

  3. Setiap orang memang meiliki pandangan dan penghayatan yang berbeda terhadap ayat-ayat yang digelar oleh Allah. Baik ayat-ayat Qur’aniyah maupun ayat-ayat kauniyah. Semua itu adalah sunnatullah dan rahmat. Menurut saya, apa yang diungkapkan oleh Agus Mustofa dalam buku-bukunya, adalah refleksi jiwanya. Beliau mengguratkan pena berdasarkan intuisi atau insitng yang bergejolak dalam jiwanya sesuai laku batiniyahnya. Sementara saudara pengkritisi, juga ada benarnya. Beliau memandang kejanggalan dalam berbagai argumen Agus Mustofa dari sudut pandang pemahaman syariat yang dipahaminya. Siapa yang benar ? Kebenaran mutlak hanya milik Allah semata. Silahkan kita melakuakan pendekatan nkepada Allah sesuai dengan jalur yang kita yakini kebenarannya. Toh, hanya kita sendiri yang merasakan bagaimana ladzatnya beribadah dan berasyik masyuk dengan Allah. Sementara pihak luar (orang lain)hanya bisa menilai kita sebatas penglihatan lahirnya saja. Akhirnya kita serahkan segala urusan kepada Allah. Semoga Allah Ta’ala senantiasa membimbing kita menuju jalan kebenaran sesuai dengan yang dikehendaki-Nya. Amin. Sing penting rukun, ora usah tukaran. Beja cilaka disonggo dhewe-dhew
    Nur Wakhid, Pesantren Al-hayyu-Watudakon-Malang

  4. assalamu alaikum..
    sy setuju dgn pak nur wakhid. ada beberapa buku pak agus mustofa yg juga telah sy baca. Memang sangat kontroversial yg berusaha mendobrak pola pikir kita ttg ajaran islam yg telah lama kita yakini. di antaranya, adam dilahirkan, akhirat tidak kekal, tidak ada azap kubur, dan lain sebagainya. khusus akhirat tdk kekal, sy rasa mungkin sj benar, dengan dasar bahwa semua ciptaan pasti akan binasa, yg kekal hanyalah Allah. wallahu alam. salam

    • hmm,, akhirat kekal namun tidak kekalnya allah krn akhirat itu dikekalkan oleh allah sementara allah dialah pemilik kekekalan itu (dzul jalaali wal ikraam)

  5. Satu-satunya cara untuk membuktikan apakah surga dan neraka kekal atau tidak adalah kita melewati pintu dengan tulisan: “Kematian”

    Tapi jika anda tak punya cukup nyali untuk itu, dapatkan informasinya dari sumber yang paling terpercaya, oke?

  6. kenapa kita harus selalu berpikir bahwa para sahabat nabi adalah generasi terbaik islam setelah nabi wafat, kenapa kita tidak berpikir lebih dalam tentang ilmu pengetahuan sekarang yang berpeluang dapat menjelaskan isi dari al-quran lebih cermat dan lebih benar. jika kita selalu berpikir bahwa orang terdahulu lebih baik, genreasi kita paling baik hanya seperti orang terdahulu itu, tidak akan bisa lebih baik karena acuan kita itu. cobalah berpikir bahwa banyak al-quran yang belum kita pahami dan bagaimana cara untuk memahami.
    pengarang buku “Allah dimata logika, the second bigbang”, (belum terbit)

  7. Betul kata Cak Wakhid, bejo ciloko kon gowo-gowo dhewe, kon gendhong-gendhong dhewe. Siapa yang disesatkan oleh Allah tak ada yang dapat memberinya petunjuk dan siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, tak akan ada yang bisa menyesatkannya…

  8. trimakasih sudah share.. ^^

  9. wah.. cukup membuka mata saya, yg disampaikan begitu gamblang dan enak dibaca, saya sudah pernah membaca ttg buku2 agus mostofa dan saya anggap artikel ini adalah pencerahan.. trims

  10. nice info neh, nambah kajian tentang akhirat trims

  11. Mengkaji Al Quran diawali dengan bacaan Iqro, kemudian memahami dengan menafsirkannya dengandengan didampingi/bimbingan seorang Imam / Ulama /Guru yang sebenar-benarnya, serta tdk ada nuansa materi duniawah, serta menguasai A-Z isi kandungan Al Quran dan Hadist Rosullulloh secara benar. Dalam pemahaman saya menafsirkan Al Quran tidak hanya semata-mata dengan memanfaatkan akal pikiran dan logika-2 duniawiannya semata. Menafsirkan Al Quran dengan Al Quran atau dengan tuntunan Rosullulloh melalui penelaahan Hadist-2 shoqeh atau dari apa yang dilakukan para sahabat-2 Rosululloh SAW. Menafsirkan Al Quran tidak cukup dengan akal pikiran manusia saja, ada batas-batas tertentu manusia tdk dpt mencapainya, maka beritjihadlah dengan dasar keimanan dan keislaman yang murni. Lebih baik kita semua instrospeksi diri. Jangan saling merasa paling benar, termasuk, maaf Bp Agus Mustofa.

  12. Hai Manusia Jika Kau sibuk berdebat saja ” Maka Sesungguhnya Kau tergolong Orang Yang Merugi”
    Agama Bukan Untuk Di Perdebatkan Tapi Di Yakini,

    “Jika Hanya 1 Orang Yang Meyakini Maka Dia Dianggap Gila”
    “Tetapi Jika Banyak Orang Meyakini Maka Di Anggap Sebagai Agama”

    ALLAH itu EGOIS > Suka Suka Dia Namanya aza TUHAN MAHA SEGALA GALANYA

    • dasar ente syetan !!!!

  13. Manusia memang boleh melakukan hal-hal penafsiran tentang Al Qur’an.

    Tapi bila hasil penafsiran kita banyak juga yang mempertentangkan, alangkah bijaknya bila kita menarik pemikiran dan penafsiran kita itu untuk konsumsi diri sendiri dan orang yang bertanya kepada ybs.

    Jadi setiap permasalahan kita di tuntut bijaksana. Bila setiap yang benar itu adalah dari Allah, Maka bila ada pemikiran kita yang membuat “RESAH” Alangkah bijaknya bila akhirnya kita menarik diri pemikiran itu daripada membiarkan melihat perselisihan yang ada.

  14. Beberapa kali penulis blog ini mengatakan “apakah Agus Mustopa lebih tahu dari Rosulullah ?” Kalo saya p Agusnya ” ntu mah ente yg bilang…” apa pun kritik anda itu merupakan pemahaman anda thd nash. Dan, apa yg Agus Mustopa paparkan, ya itu yg dipahaminya. Saya sendiri memahami akhirat (makhlukNya) tdk akan kekal (baqa), yg baqa itu hanya Allah, misalnya QS Al Hadid ayat 3. Karya Agus seperti hal baru, tetapi sebenarnya menurut saya tidak. Dalam tafsir Al Maraghy misalnya surga Adam itu di bumi, dalam Eskatologi kar. FazlurRahman diutarakan bahan baku akhirat adalah dunia. HAMKA berpendapat bahwa Adam bukan manusi pertama. Yang jelas menurut saya karya Agus tidak menggugat keyakinan kita, hanya keyakinan tsb dipahami seperti apa ? itu tergantung kpd wawasan dan penafsiran kita thd. nash krn nash sifatnya normatif.

  15. ……JAZAKALLAH

  16. Yang penting ambil hikmahnya saja, artikel tsb bukan untuk mencari perdebatan, sekedar untuk membuka wawasan keislaman aja. tx

  17. akhirat kekal namun tidak sama dengan kemahaabadian allah krn akhirat dikekalkan oleh allah sementra allah dialah pemilik kekekalan itu..(dzul jalaali wal ikraam)…. allahu a’lam

  18. saya sangat setuju dengan bahasan ini.. dengan demikian menunjukkan bahwa kita semua peduli dengan alam akhirat yang berimplikasi bahwa kita harus mempersiapkan untuk berangkat kesana… seperti kita ingin berangkat kesuatu daerah baru… tentu dan jelas kalau ingin selamat kita harus mencari referensi sebanyak-banyaknya tentang daerah tersebut… anda yang mengkritisi tulisan pak agus tentang akhirat tidak kekal sangat membantu kita untuk menambah pengetahuan… namun jujur yang sangat saya setujui dengan pak agus :
    pertama :
    setiap tulisan di dalam bukunya kita temukan ayat-ayat Alquran.. sebagai penjelasan dari tulisannya..
    kedua :
    khusus untuk akhirat tidak kekal.. bahwa di cover buku tersebut sudah ada sepotong ayat (dan banyak lagi) yang meggambarkan kekekalan akhirat yang dapat menjadi renungan kita semua.. (walau apupun persefsi dan pendapat kita) bahwa kekekalan akhirat itu “SELAMA ADA LAGIT DAN BUMI”… ini menunjukkan bahwa (yang saya pahami) bumi ini tetap ada di alam akhirat…. begitupun dengan langit… namun mungkin benar kalau bumi dan langit yang dimaksud adalah berdimensi berbeda dengan yang ada didunia sekarang kita huni…. (namun sebaiknya kalau kita ragu dengan penggambaran tersebut… sebaiknya kita kembali kedalam keyakinan Alquran dan Sunnah… bahwa Akhirat Pasti ada walaupun dimanapun tempatnya)
    ………..
    yang jelas saudaraku…. (kalau saya pribadi) menganggap apa yang digambarkan bapak agus (juga seluruh umat islam yang yang berpengetahuan tasawuf) adalah sesuatu yang sangat baik… sebagai bahan kajian dan ilmu untuk kita… untuk APA ? tentu untuk SADAR dan MENYADARI bahwa kita wajib mengikuti ALquran dan Sunnah… sebagai penuntun kita menuju Akhirat ( walaupun dimanapun tempatnya )

  19. SYEITAN>>>>>>>>>>> Sikap seseorang yang sedang mulai belajar berguru silat biasanya merasa sudah menjadi sang pendekar sejati dibandingkan orang lain, ketika berjalan mata dan wajahnya mendongak, seolah tiada tanding, semua orang ditantangnya, seolah hanya dia yang paling jago, padahal sebenar-benarnya yang dipelajari baru jurus pemula,

    Sedang sikap seorang pendekar, biasanya ia selalu bersikap sederhana dan rendah hati, seperti orang biasa biasa saja, namun ia justru haus akan ilmu baru dan dengan rendah hati mau dan terus belajar dari apapun dan siapapun, karena bagi sang pendekar, semuanya adalah guru, baik kawan maupun lawan, baik orang tua atau anak-anak, baik atasan maupun bawahan sekalipun .. yang akan membuat dirinya menjadi lebih pendekar lagi ..

    Saling tantang antar-sesama pendekar, itu sesuatu yang biasa dalam dunia persilatan. Itu sudah menjadi sebuah konvensi untuk menentukan derajat kedigdayaan sang pendekar.

    Al Ghazali adalah salah seorang “pendekar” yang berani menantang para failasuf sehingga terbitlah “tahafut al falasifah”, yang kemudian dihajar balik oleh filosof Ibnu Rusyd melalui “tahafut al-tahafut”. Demikian pula dengan al-Asy’ari, al-Syafi’ie, Abu Hanifah dll.

    Berdiskusilah dengan “billati hiya ahsan”, jangan tebarkan caci maki di ruangan ini.

    MOHON IZIN NYA UNTUK SAYA TERBITKAN DI SITUS SAYA BANG

  20. saya setuju dengan pak nur wahid.
    Pada dasarnya saya, pak agus, pak hendra, dan semua yg ada disini sama-sama mengimani dan percaya hari akhir. Pemahaman ini muncul seperti seseorang mencintai sesuatu tentulah menginginkan mengerti dan memahami segalanya. Seperti halnya kita mencintai agama islam, tentunya sebagai mahluk yg diberikan akal tentunya ingin jauh mendalami Islam lebih dalam agar rasa cinta ini lebih mendalam. Adapun ketika kita menemukan pemahaman yang berbeda tetapi ujungnya kita satu, tetap percaya dengan hari akhir. Malah menurut saya tulisan pak agus mustofa TATK menjadi awal pelajaran manusia jika ingin mengerti apa yang akan dialami di hari akhir. Jika mengerti ending of live ini seperti apa, barulah kita menyiapkan segala sesuatunya sebelum terjadi. Yang terpenting adalah hati kita dimata Allaah. Bagaimana cara kita, ketulusan hati kita, untuk mengakui Allaah adalah satu-satunya Tuhan, cara mencintai Allaah, cara memaknai hidup ini di jalan Allaah, itu yang lebih utama. Sebenarnya kita hidup adalah untuk menjawab misteri “kenapa kita harus hidup dulu di bumi dan hal apa yg hrs dilakukan di bumi”. Pertanyaan itu yg harus dijawab tergantung dari cara kita memaknai hidup, dalam memahaminya, dan cara untuk mempersiapkan tanggung jawab kita saat di”tanya” nanti.

  21. kita harus menghargai,,,pendapat orang lain tentang agama….kita tidak boleh menaganggap orang lain salah karna kebenaran itu hamya milik ALLAH…

  22. Mohon maaf sebelumnya ya. Kalau kita ingin membantah pendapat seseorang, ya kita harus menggunakan pendekatan yang sama. Kita bisa melihat Tuhan mengutus Nabi Musa dengan kelebihannya dapat mengalahkan para tukang sihir di jaman Fir’aun berkuasa, Nabi Isa dengan ilmu pengobatannya yg mengalahkan para tabib jaman itu, Nabi Muhammad dengan Al-qur’an yg mengalahkan para penyair jaman itu.

    Pak Agus Mustofa memahami agama dengan logika. Jadi kalau ada yang salah dengan pemahaman beliau, ya kita harus bisa menjelaskan dengan logika. Jangan malah bilang agama itu tidak bisa di logika, kata siapa ? Kalo kita memang yakin dengan agama kita, kita pasti yakin dengan kebenaran agama kita dipandang dari sudut manapun.

    Kalo saya setuju bahwa logika agama (Islam) tidak boleh dipisahkan dengan logika ilmiah, krn memang keduanya sejalan. Jangan malah jadi ikut-ikutan agama lain yang malah menjadi sekuler karena agama mereka tidak sesuai dengan logika ilmiah, terus dipisahkan aja antara ajaran agama (keyakinan dan ritual ibadah) dengan masalah kehidupan yang lain. Kalo dalam Islam kan tidak perlu adanya pemisahan seperti itu.

    Begitu jg dengan kekekalan akherat, kita bisa menjelaskan dengan logika kok. Kata siapa tidak bisa di logika ?

    Yang menjadi permasalahan, sumber logika kita itu apa ? Al-qur’an ato selain Al-qur’an. Kalo yang selain qur’an biasanya jadi ga logis lagi.

    Kalau dipahami dengan “selain qur’an”, maka akherat itu saat ini sudah ada di langit yg ketujuh. Padahal Al-qur’an menginformasikan akherat itu ada setelah terjadi hari kehancuran total (yaumu Saah) lalu diberdirikan kembali (yaumu Qiyamah) lalu ada akherat (ada hari pembalasan yaitu surga dan ada neraka) .

    Urutannya seperti itu, bukan akherat sekarang ada lalu ada hari kehancuran. Logikanya kan ga nyambung. Masa’ kita sudah sampe surga ato sudah sampe neraka, tiba2 ada hari kehancuran. Ngapain Tuhan buat surga dan neraka ? Jadi, berpikir logis itu perlu, asal dengan syarat dasar pengambil kesimpulan benar. Kalo dasar pengambilan kesimpulannya ga pas ya hasil akhirnya jauh.

    Mohon maaf bila salah kata. Terima kasih.

  23. entah kenapa orang2 seperti hendrainfo, kayaknya gak rela(ikhlas) orang lain berpikir mengenai karunia Alloh, menggunakan akal pikiran karunia yang diberi Alloh, kemudian menggap orang itu salah karena tidak sama dengan pikiranya.

    biasanya orang-orang berilmu(alim) tidak mudah menyalahkan pendapat atau pikiran orang lain.

    apa salahnya orang berfikir tentang ayat-ayat Alloh baik tertulis atau tak tertulis, kalaupun hasil berpikirnya itu salah, dia sudah termasuk kedalam “ulil albab”, perkara benar salah dalam berfikir hanya Alloh yang berhak menghukumnya.

    buku tersebut sudah diterbitkan, terus saudara mau apa?
    kalo memang anda berilmu tinggi sok bahas panjang lebar, mampukah anda membuat buku yang seradikal TATK, saya tunggu bukunya

  24. menurut pendapat ustadz tauhid saya bahwa allah itu kekal namun akirat dikekalkan oleh allah,karena Allahlah sang maha pencipta

  25. gitu aja kok repot, yang percaya akhirat kekal ya silahkan, yg percaya akhirat tidak kekal ya monggo, intinya kita menyakini akhirat itu ada, dan Allah yang Maha ber Kuasa dan Maha Kekal, soal kekal atau tidaknya kita juaga tidak tahu karena itu rahasia Allah, sama dengan kita percaya kiamat tp tidak tahu kapan terjadinya, karena itu rahasia Allah, masing” orang (entah itu ulama atau orang yg ahli tafsir) tentunya punya penafsiran yg berbeda thd beberapa firman Allah, karena apa ??…karena mereka adalah manusia ciptaan Allah yang ilmunya tidak ada apa apanya dibanding Allah sang Penciptanya……jadi monggo poro sedulur kaum muslimin kita rapatkan shof kita, jangan bikin malu islam kita.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: